Ketika Dampak Refresh Logo Tidak Sesuai Keinginan Awalnya

Instagram, Nokia dan Kia pernah melakukan refresh logo brand mereka, dan semuanya menuai kontroversi

BRAND STRATEGY

Frinzy Zulkarnain

9/5/20263 min baca

white concrete building
white concrete building

Rebranding Instagram, Nokia, dan Kia yang Menuai Kontroversi

Agustus 2026, Instagram merilis logo baru — perubahan pertama dalam kurang lebih 10 tahun. Alasan resminya, disampaikan langsung oleh Head of Instagram Adam Mosseri, sangat sederhana: logo itu belum berubah selama satu dekade, jadi sudah waktunya di-refresh. Deskripsinya: lebih bersih, lebih modern, dengan referensi ke kesederhanaan dan craftsmanship yang selalu jadi ciri khas Instagram.

Itu saja. Tidak ada penjelasan soal pergeseran audiens, perubahan model bisnis, atau posisi baru di pasar. Dan publik langsung bereaksi, bukan pada estetikanya, tapi pada satu hal yang sama sekali tidak disinggung dalam pengumuman resmi tersebut: kemudahan membaca.

Huruf "r" yang dibuat dengan gaya tertentu terbaca sebagai "z" atau "u". Huruf "s" bisa terbaca seperti "a". Dalam satu jam pertama setelah pengumuman, lebih dari 2.000 komentar masuk ke post Mosseri — sebagian memuji desainnya, sebagian besar mengeluhkan sulitnya membaca logo tersebut, bahkan mempertanyakan kenapa desain ini bisa lolos standar aksesibilitas. Publik dengan cepat memplesetkannya menjadi "Instagzam," "Instagwam," bahkan "Instaguam."

Yang menarik: saat ditanya langsung soal keluhan keterbacaan ini, Director of Product Design Instagram, Jasmine Probst, memberi jawaban diplomatis — mengapresiasi reaksi publik dan meme yang bermunculan, tanpa benar-benar menjawab pertanyaan intinya.

Ini bukan kasus pertama. Dan pola yang muncul di baliknya lebih menarik daripada sekadar "orang tidak suka font baru."

Instagram Bukan yang Pertama

Nokia (2023) menghadapi kritik serupa saat merilis identitas baru. Alasan mereka jauh lebih kuat secara strategis dibanding Instagram: Nokia ingin bergeser dari citra sebagai brand ponsel konsumen — sebuah pasar yang sudah lama mereka tinggalkan — menjadi perusahaan teknologi B2B. Namun eksekusinya menghilangkan sebagian garis pada huruf N, K, dan A, sehingga logo baru itu banyak dibaca sebagai "AOCIA". Reaksi kritikus desain pun terbelah: sebagian menilai logo yang butuh sedikit usaha untuk dibaca justru membentuk ikatan yang lebih kuat dengan audiens; sebagian lain menilai mengorbankan kemudahan membaca tetap sebuah kegagalan, terlepas dari alasan strategis di baliknya.

Kia (2021) adalah kasus yang paling banyak dokumentasinya dari ketiganya. Kia mengganti logo oval merah ikoniknya dengan logo silver minimalis bergaya tulisan tangan — menghilangkan garis tengah pada huruf "A". Reaksi publik: banyak yang membacanya sebagai "KN," bukan "Kia". Ini menghasilkan sekitar 30.000 pencarian Google per bulan untuk "KN car" — sebuah pola yang bertahan bertahun-tahun, bukan sekadar heboh sesaat. Survei oleh konsultan otomotif Rerev, dilakukan hampir dua tahun setelah peluncuran, menemukan hanya 56% responden yang bisa mengidentifikasi huruf pada logo baru dengan benar.

Sama seperti Nokia, alasan Kia untuk rebranding ini nyata dan strategis — mendukung reposisi merek seiring slogan baru mereka, "Movement that Inspires," dan pergeseran ke desain SUV serta EV yang lebih futuristik.

Satu Pola yang Sama, Tiga Kali Berturut-turut

Perhatikan kesamaan struktural di balik ketiga kasus ini: Instagram, Nokia, dan Kia semuanya mengambil keputusan desain yang sama — menghilangkan elemen struktural kecil dari bentuk huruf demi tampilan yang lebih bersih dan minimalis. Dan ketiganya menghasilkan kegagalan yang sama persis: sebuah plesetan nama yang menjadi bahan candaan publik.

Ini bukan kebetulan. Ini pola yang bisa diprediksi, dan seharusnya bisa ditangkap lewat uji keterbacaan dasar sebelum logo dirilis ke publik — terlepas dari seberapa kuat alasan strategis di baliknya.

Jadi, Apakah Ini Benar-benar Merugikan Bisnis?

Dari ketiga kasus ini, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan korelasi langsung antara kritik terhadap logo dan penurunan performa bisnis. Kia adalah contoh paling jelas: meski kebingungan "KN" bertahan lebih dari empat tahun tanpa pernah direvisi, bisnis Kia tetap tumbuh kuat dengan lini SUV dan EV yang mendapat sambutan positif di pasar. Nokia memang mengumumkan PHK besar setelah rebranding-nya, tapi tidak ada bukti yang menghubungkan langsung keputusan tersebut dengan logo — PHK itu lebih terkait kondisi pasar dan tantangan bisnis yang jauh lebih luas.

Yang benar-benar terjadi ada di level lain: persepsi dan koneksi merek, bukan langsung di laporan laba-rugi. Spektrumnya pun bervariasi, dari kebingungan (kasus Kia, "ini logo mobil apa?") hingga sesuatu yang lebih emosional: perasaan bahwa sebuah brand kehilangan kehangatan, individualitas, atau koneksi personal yang selama ini melekat padanya (kritik yang lebih banyak muncul di kasus Instagram).

Apakah penurunan brand love ini pada akhirnya memengaruhi performa bisnis jangka panjang? Secara teori pemasaran, ini masuk akal, brand equity yang melemah pada akhirnya bisa mengikis posisi kompetitif sebuah merek di benak konsumen. Tapi penting untuk jujur: ketiga kasus ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat itu secara langsung. Yang bisa dikatakan dengan pasti adalah bahwa kritik terhadap sebuah rebrand adalah risiko nyata terhadap persepsi merek — sementara dampaknya terhadap angka bisnis konkret masih perlu dibuktikan dari waktu ke waktu, bukan diasumsikan begitu saja.

Pelajaran Praktis untuk Pemilik Bisnis

Ini yang sebenarnya paling penting dari ketiga kasus di atas — bukan soal apakah logo baru akan menghancurkan bisnis Anda, tapi soal masalah yang sepenuhnya bisa dihindari.

Ketiga brand ini memilih menuai kebingungan publik, candaan, dan risiko waktu eksekutif yang terbuang untuk membela keputusan desain — padahal ini bisa dicegah lewat satu langkah sederhana: uji keterbacaan sebelum diluncurkan. Ini bukan soal selera desain. Ini soal disiplin proses.

Sebelum melakukan refresh identitas brand Anda — logo, tagline, atau elemen visual lainnya — dua pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur:

  1. Apakah alasan di balik perubahan ini benar-benar strategis — merespons pergeseran nyata pada audiens, posisi pasar, atau arah bisnis — atau sekadar karena "sudah lama tidak berubah"?

  2. Apakah desain baru ini sudah diuji oleh orang di luar tim kreatif, yang melihatnya dengan lebih obyektif, sebelum tayang ke publik?

Kalau salah satu jawabannya tidak jelas, kemungkinan besar Anda sedang mengambil risiko yang sama seperti tiga brand global ini — hanya dalam skala yang berbeda.

Frinzy Zulkarnain

Bisnis Anda layak punya strategi pemasaran yang benar-benar bekerja.

Kalau Anda ingin tahu di mana letak masalahnya — dan bagaimana memperbaikinya — mari bicara. Hubungi saya melalui formulir kontak atau LinkedIn.

FZ Consultancy adalah praktik penasihat independen yang beroperasi di bawah PT Arah Strategi Konsultansi (ASK) | Jakarta, Indonesia.

Marketing & GTM Consultant